Garis Wallace dan Weber: Definisi, Penjelasan Letak Geografis, dan Kondisi Tektonik Regional

Garis Wallace dan Weber merupakan garis khayal yang dalam penggunaannya merupakan pemisah persebaran fauna di Indonesia. Perlu diketahui bahwa batas dari persebaran fauna yang dibatasi oleh garis tersebut berbeda dengan batas dari persebaran flora. Garis tersebut lebih merujuk pada pemisah persebaran fauna, bukan flora. Utamanya, garis-garis tersebut dikenal sebagai garis biologi. Namun, garis Wallace dan Weber memiliki arti lain, yaitu garis geologi yang merupakan penyebab perbedaan fauna antara wilayah yang dibatasi garis khayal tersebut. Garis Wallace sendiri merupakan garis khayal yang membatasi penyebaran fauna Oriental atau Asiatis. Secara geografis, garis Wallace terletak memanjang dari Selat Lombok hingga Selat Makassar, sehingga wilayah Indonesia yang merupakan tempat penyebaran fauna Asiatis adalah wilayah yang terletak di sebelah barat garis Wallace, yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali.

Garis Weber sendiri merupakan garis khayal yang menunjukkan kesetimbangan fauna Asiatis dan Australis, yaitu 50:50. Ada satu istilah garis lagi yang fungsinya sama seperti garis Wallace, yaitu garis Lydekker yang merupakan garis khayal yang membatasi penyebaran fauna Australis. Wikipedia, dalam Satyana, 2012 menunjukkan peta Indonesia dan sekitarnya yang dipisahkan oleh dua garis khayal pembatas persebaran fauna, yaitu Wallace dan Lydekker, serta satu garis kesetimbangan fauna, yaitu Weber. Garis Lydekker terletak memanjang di batas barat Dangkalan Sahul, dan wilayah Indonesia yang merupakan tempat penyebaran fauna Australis adalah Papua dan pulau-pulau kecil di dekatnya, yaitu Kepulauan Raja Ampat, Kepulauan Yapen dan Biak.

Kembali ke garis Weber yang terletak di antara garis Wallace dan Lydekker. Wilayah yang dilewati oleh garis Weber merupakan wilayah dengan kesetimbangan fauna Asiatis dan Australis sebesar 50:50. Garis ini memanjang dari selatan Timor, Laut Banda hingga Laut Maluku. Wilayah yang terletak di antara garis Wallace dan Garis Weber disebut dengan wilayah Wallacea. Wilayah Wallacea di Indonesia meliputi Pulau Sulawesi, sebagian besar Kepulauan Maluku dan Kepulauan Nusa Tenggara kecuali Bali. Di sini berkembang hewan yang berbeda dengan hewan-hewan yang berada di barat garis Wallace yang bercorak Asiatis atau timur garis Lydekker yang bercorak Australis.

Pembatasan wilayah penyebaran fauna ini sebenarnya dikontrol oleh proses geologi yang merupakan proses glasiasi. Proses glasiasi atau glasial ini merupakan peristiwa dimana terjadi perluasan es di daerah kutub akibat penurunan suhu bumi. Periode glasial ini sering dikenal dengan Zaman Es. Akibatnya adalah terjadi penurunan muka air laut. Periode glasial terakhir yang dikenal dengan Last Glacial Maximum sekitar 20.000 tahun lalu membuat permukaan air laut yang lebih rendah 110 meter dari permukaan air laut sekarang. Banyak periode glasial lain yang telah terjadi sebelumnya, dan permukaan air laut jauh lebih turun dibandingkan periode setelahnya.

Pulau-pulau yang saat ini terletak pada Dangkalan Sunda, dahulunya merupakan satu daratan dan bersatu dengan daratan Asia. Pun demikian dengan Dangkalan Sahul yang dahulunya merupakan satu daratan dengan Benua Australia. Keadaan ini terjadi pada Zaman Es Pleistosen jutaan tahun yang lalu. Karena merupakan daratan yang sama, fauna tersebut tersebar dan berkembang di dua dangkalan tersebut. Terdapat perbedaan yang cukup jelas pada wilayah Wallacea, dimana fauna yang berkembang tersebut banyak yang merupakan satwa langka dan hanya terdapat di wilayah itu saja, seperti anoa, kuskus, babirusa dan sebagainya.

Secara tektonik dapat dijelaskan bahwa wilayah Wallacea merupakan wilayah tektonik yang kompleks. Mulai dari Pulau Sulawesi yang merupakan produk kolisi lengan-lengannya, Kepulauan Sula yang menumbuk bagian timur Pulau Sulawesi, Halmahera-Laut Maluku-Sulawesi yang merupakan subduksi ganda, Kepulauan Damar dan Banda yang merupakan busur kepulauan vulkanik, dan Kepulauan Nusa Tenggara yang kompleks. Dari hal tersebut ditemui keadaan fauna yang khas dan unik di wilayah Wallacea. Pada Pulau Sulawesi yang merupakan benturan massa benua terdapat hewan yang sama dengan Asiatis dan Australis, namun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dua wilayah tersebut. Hal yang membuatnya berbeda adalah kekhasan atau keterdapatan fauna langka yang hanya ada di wilayah tersebut. Dengan demikian, proses yang berpengaruh dalam persebaran fauna di Indonesia adalah proses glasiasi dan proses tektonik.

Map of the Celebes Sea region where biogeographic patterns observed on land led to lines drawn to explain breaks in species distribution. INDEX exploration of the deep sea will occur across Wallace's line -an imaginary line postulated by A. R. Wallace as the dividing line between Asian and Australian fauna in the Malay Archipelago. Weber's line is a line of supposed Ôfaunal balanceÕ between the Oriental and the Australasian faunal regions within Wallacea. Wallacea consists of isolated islands that were never recently connected by dry land by continental land masses, and thus was populated by species capable of crossing the straits between islands. "Weber's Line" runs through this transitional area, at the tipping point between dominance by species of Asian vs. Australian origin. (Source: http://oceanexplorer.noaa.gov)
Map of the Celebes Sea region where biogeographic patterns observed on land led to lines drawn to explain breaks in species distribution. INDEX exploration of the deep sea will occur across Wallace’s line -an imaginary line postulated by A. R. Wallace as the dividing line between Asian and Australian fauna in the Malay Archipelago. Weber’s line is a line of supposed Ôfaunal balanceÕ between the Oriental and the Australasian faunal regions within Wallacea. Wallacea consists of isolated islands that were never recently connected by dry land by continental land masses, and thus was populated by species capable of crossing the straits between islands. “Weber’s Line” runs through this transitional area, at the tipping point between dominance by species of Asian vs. Australian origin. (Source: http://oceanexplorer.noaa.gov)

Referensi:

  • Satyana, A.H., 2012. Berita Sedimentologi, No. 25-11/2012, Bali-Lombok Gap: A distinct Geo-Biologic Border of the Wallace Line. Forum Sedimentologiwan Indonesia.
  • Satyana, A.H., 2012. Sulawesi: Where Two Worlds Collided. [web] Tersedia di: <https:// www.mail-archive.com/iagi-net@iagi.or.id/msg37064.html> Diakses pada 27 November 2014.
Penulis: Hendra Guna Wijaya | Geofisika UGM 2012

Himpunan Mahasiswa Geofisika Indonesia

HMGI

Shares