Uncategorized

Pemanfaatan Metode Geolistrik Resistivitas Untuk Studi Peninggalan Situs Arkeologi

Geotrivia

Studi tentang peninggalan benda Arkeologi tak lepas dari informasi yang ingin diperoleh mengenai perilaku sosial, budaya para leluhur dan/ atau memanfaatkan sisa artefak sebagai barang bernilai komoditi tinggi/atau sejarah untuk mengetahui peradaban. Rumah peninggalan berumur kisaran puluhan tahun pada lokasi penelitian diduga menyisahkan artefak berupa keramik/atau guci yang terpendam bawah permukaan tanah. dijeRumah-rumah peninggalan yang tampak di permkaan saat ini juga bisa jadi hanyalah bagian kecil dari sebuah peradaban, sebab diduga masih ada ruang di bawah Minimnya informasi yang telah diperoleh.
Oleh karena itu perlu dilakukan pengukuran dengan metode pemetaan bawah permukaan di sekitar daerah yang diduga terdapat artefak/situs peninggalan agar proses penggalian dapat dilakukan tanpa menimbulkan kerusakan dan diperoleh hasil yang signifikan dan efisien. Salah satu metode pengukuran untuk mengetahui kondisi bawah permukaan tanah ialah dengan metode geolistrik. Metode geolistrik tahanan jenis yang dikenal juga dengan sebutan metode resistivitas merupakan metode yang bersifat aktif, karena menggunakan gangguan aktif berupa injeksi arus yang dipancarkan ke bawah permukaan bumi yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan benda purbakala. Berdasarkan permasalahan di atas, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah konfigurasi wenner schlumberger yang merupakan resistivitas mapping yang biasa dikenal sebagai profiling (2D).

 

f

Gambar : Konsep Pengukuran Resistivitas 2D di lapangan (Loke, 1999)

Salah satu alasan dari penggunaan konfigurasi Wenner-Schlumberger karena konfigurasi ini memiliki penetrasi vertikal baik dan juga mampu memetakan distribusi nilai resistivitas secara lateral dalam kehomogenan secara baik. Konfigurasi penetrasi kedalaman lebih baik bila dibandingkan dengan konfigurasi Wenner (Syamsudin, 2012).

 

f1

Gambar : konfigurasi wenner – schlumberger
K=πn(n+1)a

Pada penelitian ini, tahapan awal yang dapat dilakukan adalah studi literatur, baik mengenai situs bersejarah yg nantinya akan kita teliti maupun mengenai metode yang akan digunakan. Kemudian dilanjutkan dengan Observasi lingkungan untuk data awal sebagai penguat adanya sebuah situs/artefak yang ingin kita cari. Biasanya pada saat observasi lingkungan ini kita akan menemukan informasi seperti batuan dan juga vegetasi daerah sekitar, apakah memiliki wilayah ditumbuhi oleh pepohonan yang lebat atau tidak, informasi awal ini akan memberi petunjuk kira-kira ada apa dibawah permuaan dari daeerah yg kita teliti.
Selajutnya yaitu pembuatan desain akuisisi lapangan. Desain akuisisi yang dibuat dalam penelitian ini dapat dibuat untuk focus pada pendugaan artefak/situs saja. Desain akuisisi dibuat berdasarkan pada kodisi lokasi setempat, kesesuaian target dan sebagainya.
Pengolahan data geolistrik adalah tahap pengolahan secara umum pada saat menggunakan software res2dinv. Pada tahap pertama dan kedua yaitu rekapitulasi data dan merubah data sesuai format yang diinginkan oleh perangkat pengolah data. Kemudian tahap ketiga adalah input data sampai read data file competed dan pengaturan nilai convergence limit. Selanjutnya tahap keempat dan kelima ini lebih kepada tahapan inversi, pemilihan metode inveri seperti least square inversion, smoothness, dumping factor, dan juga termasuk jumlah iterasi data yang diinginkan. Termasuk juga melihat tammpilan hasil inversi yang sudah ditambahkan data topography. Setelah itu intrepretasi data.
Setelah dilakukan pengumpulan dan pengolahan data, berikut ini adalah salah satu hasil dari pengolahan data pada tahap inverse model resistivity, dimana dapat terlihat nilai resist dala rentang 180-200 Ohm meter representasi batuan andesit. Kemudian anomali yang terletak pada lingkaran hitam memiliki nilai resist yang sangat tinggi antara nilai 1418 – 3836 Ohm m pada kedalaman 0.5 – 1 meter di bawah permukaan. Hal tersebut dapat di Identifikasi sebagai Ruangan kosong (nilai resistivitas sangat tinggi = udara).

 

f2

 

Untuk interpretasi secara keseluruhan dari hasil penelitian, kita dapat mengetahui batuan penyusun dari hasil observasi lapangan dan anomali yang berada dari hasil penggukuran geolistrik. Dimana pada penelitian ini didapat keismpulan bahwa penggunaan metode geolistrik resistivita dapat digunakan untuk pemetaan bawah permukaan untuk pencarian sebuah artefak/situs. Untuk langkahhh selanjutnya penelitian ini dapat dilakukan bekerja sama dengan berbagai disiplin ilmu seperti arkeologi, sejarah, teknik sipil, arsitektur, geologi, para praktisi, serta masyarakat sekitar untuk meneliti dan mengungkap dari adanya suatu artefak/situs peninggalan peradaban dimasa lalu.

Penulis : Almira Mahsa, ITS

Refrensi :
Dwiharto, Fauzan. (2017). Identifikasi Bawah Permukaan Situs Maelang Dusun Maelang Desa Watukebo Kelurahan Bajulmati Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi Dengan Metode Resistivitas 2D. Tugas Akhir Teknik Geofisika. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya
Mufidah, J. (2016). Aplikasi Metode Geolistrik 3D Untuk Menentukan Situs Arkeologi Biting Blok Salak di Desa Kutorenon Kecamatan Sukodono Lumajang. UIN Maulana Malik Ibrahim, Jurusan Fisika. Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim.