Mengenal Batas Lempeng Tektonik dan Ciri Morfologinya

Bumi memiliki lempeng-lempeng yang selalu dinamis, dimana lempeng tersebut terdiri atas lempeng samudera dan lempeng benua. Pergerakan lempeng tersebut disebabkan oleh arus konveksi magma yang berputar di dalam bumi. Pernahkah kita berpikir, seberapa jauh sebuah lempeng melingkupi permukaan bumi kita? Dan apa saja bentuk zona batas yang mencirikan kedudukan lempeng satu dengan lempeng lainnya, serta bagaimana kita dapat mengenalinya?

  1. Zona  Batas Divergen

Lempeng divergen adalah keadaan dimana suatu lempeng akan bergerak saling menjauhi, sehingga pada pusat pergerakan lempeng akan terbentuk lapisan astenosfer yang baru dan menyebabkan makin meluasnya area dari lempeng tersebut.

Ada dua macam zona yang terbentuk akibat kejadian lempeng divergen, yaitu:

a.  Zona divergen antara lempeng-lempeng pada lantai dasar samudera.

Model Zona Divergen. Sumber: Handout Tektonik Lempeng, Salahuddin Husein (2012)
Model Zona Divergen. Sumber: Handout Tektonik Lempeng, Salahuddin Husein (2012)
  • Tempat pertemuan dua batas lempeng dengan tipe Lempeng divergen disebut seafloor spreading atau spreading center. Contohnya terdapat pada pertemuan antara lempeng Amerika Utara dan lempeng Eurasia di Samuera Antartika, sedangkan

b. Zona divergen antara dua lempeng benua.

Zona divergen antara Lempeng Eurasia-Amerika Utara, Islandia. Sumber: http://id.wikipedia.org
Zona divergen antara Lempeng Eurasia-Amerika Utara, Islandia. Sumber: http://id.wikipedia.org

Ciri-ciri morfologi zona divergen:Keadaan ini menyebabkan terjadinya rekahan yang cukup besar pada daratan. Rekahan itu akan terus meluas setiap tahunnya. Sebagai contoh yang terjadi di Afrika Timur yang dikenal sebagai Great Rift Valley.

  • Adanya bekas tarikan berlawanan arah antara kedua lempeng, yang bisa ditandai dengan: celah antara kedua lempeng, atau bisa juga dengan adanya penipisan lempeng di pertengahan kedua arah gaya.
  • Pada zona ini bisa terbentuk gunungapi, dimana magma di dalam bumi akan lebih mudah mencapai permukaan (dikarenakan lempeng yang menipis). Dicirikan gunungapi cenderung berbentuk landai
  1. Zona Batas Konvergen

    Gunung Himalaya, salah satu bentuk morfologi alam hasil konvergensi lempeng benua. Sumber: www.makegoodtime.com
    Gunung Himalaya, salah satu bentuk morfologi alam hasil konvergensi lempeng benua. Sumber: www.makegoodtime.com


Ada tiga model dari tipe lempeng konvergen, yaitu :Sesuai dengan namanya, zona ini terbentuk akibat pergerakan lempeng yang sifatnya konvergen. Pergerakan Lempeng kovergen yaitu gerakan yang merepresentasikan bahwa terdapat lempeng-lempeng yang saling mendekat, bahkan bertumbukan. Pada tipikal zona konvergen berupa penunjaman lempeng samudera-lempeng benua, hal tersebut menyebabkan salah satu dari lempeng—yaitu lempeng samudera—akan tersubduksi ke dalam mantel.

1. Pertemuan antara lempeng samudera dengan lempeng samudera.

Model Zona Batas Konvergen (Samudera - Samudera). Sumber: Handout Tektonik Lempeng, Salahuddin Husein (2012)
Model Zona Batas Konvergen (Samudera – Samudera). Sumber: Handout Tektonik Lempeng, Salahuddin Husein (2012)


Pada daerah konvergensi lempeng samudera-lempeng samudera, salah satu lempeng yang beratnya lebih tinggi dari lempeng lainnya akan tersubduksi ke arah mantel. Sehingga, pada daerah pertemuan tersebut akan terbentuk daerah kepulauan yang terdiri dari gunung-gunung laut. Pertemuan lempeng yang seperti ini biasanya terjadi di daerah laut dalam dengan kedalaman lebih dari 11000 meter, contohnya adalah rangkaian kepulauan yang dipenuhi gunung api sepanjang Mariana Trench di bagian barat Samudera Pasifik.

2. Pertemuan antara lempeng samudera dengan lempeng benua.

Model Zona Batas Konvergen (Benua - Samudera). Sumber: Handout Tektonik Lempeng, Salahuddin Husein (2012)
Model Zona Batas Konvergen (Benua – Samudera). Sumber: Handout Tektonik Lempeng, Salahuddin Husein (2012)

Karena densitas lempeng samudera lebih tinggi, lempeng samudera akan tersubduksi ke arah mantel dan menyebabkan terbentuknya gunung-gunung api aktif di daratan benua. Adapun terjadinya gunung-gunung aktif tersebut, adalah karena adanya pergesekan antara lempeng samudera dengan batuan-batuan di sekitarnya, dimana batuan akan leleh dan berubah fase menjadi cair (magma). Hal itu terjadi karena pergerakan lempeng samudera. Akibatnya, magma akan merambat ke permukaan melalui rekahan-rekahan, sehingga terbentuklah gunung api. Daerah konvergen ini dicirikan dengan adanya aktivitas seismik yang cukup tinggi, bahkan kebanyakan gelombang tsunami tak jarang terjadi akibat hal tersebut. Contoh tipe konvergensi lempeng benua—lempeng samudera terdapat di daerah zona penyusupan di sepanjang Pantai barat Sumatera dan di sepanjang Pantai Selatan Jawa.

3. Pertemuan antara lempeng benua dengan lempeng benua.

Model Zona Batas Konvergen (Benua - Benua). Sumber: Handout Tektonik Lempeng, Salahuddin Husein (2012)
Model Zona Batas Konvergen (Benua – Benua). Sumber: Handout Tektonik Lempeng, Salahuddin Husein (2012)

Peristiwa konvergensi ini mengakibatkan terjadinya lipatan yang semakin lama areanya semakin luas dan semakin tinggi, sebagai contoh adalah pembentukan pegunungan Himalaya dan daerah dataran tinggi Tibet.

 

Ciri-ciri morfologi zona konvergen:

  • Jika salah satu lempeng menunjam ke dalam mantel, dapat kita lihat bahwa di permukaan bumi tersebut, terdapat kenampakan batas penunjaman antara kedua lempeng, dimana satu lapisan lempeng terlihat masuk ke dalam lapisan lempeng lain. Batas antara kedua lempeng ini disebut
  • Terdapat bentang alam berupa busur pegunungan. Pegunungan tersebut akan memanjang sesuai dengan jalur trench. Tipikal gunung biasanya berwujud tinggi. Dapat dimungkinkan juga terjadi gunungapi, apabila pergerakan lempeng saat menunjam dapat menyebabkan batuan sekitar menjadi leleh dan berwujud magma, lalu magma mencapai permukaan bumi.
  • Jika terbentuk di laut, bisa memicu terjadinya busur kepulauan gunungapi.
  • Jika terbentuk di zona konvergensi samudera-benua, akan memicu busur gunungapi tepi kerak benua.
  • Jika terbentuk di pertemuan lempeng benua, akan membentuk wilayah pegunungan (mountain range) yang cukup tinggi.
  1. Zona Batas Transform

    Model Zona Batas Transform. Sumber: Handout Tektonik Lempeng, Salahuddin Husein (2012)
    Model Zona Batas Transform. Sumber: Handout Tektonik Lempeng, Salahuddin Husein (2012)


Tipe pertemuan antara dua lempeng tektonik yang bergerak secara horisontal dan berlawanan arahnya. Tidak seperti pola struktur yang terbentuk dalam zona konvergen, pada tipe zona transform tidak ada pembentukan lapisan astenosfer baru atau terjadinya penunjaman yang dilakukan oleh salah satu lempeng terhadap lainnya. Tipe pergerakan transform bisa terjadi, baik di antara lempeng samudera, maupun di antara lempeng benua. Sebagai contoh adalah pergerakan transform yang terjadi pada dua buah lempeng benua di California,mengakibatkan terjadinya Patahan San Andreas.

Patahan San Andreas, Los Angeles, Amerika Serikat. Sumber: www.geologiundip.blogspot.com
Patahan San Andreas, Los Angeles, Amerika Serikat.
Sumber: www.geologiundip.blogspot.com

Ciri-ciri morfologi zona transform:

  • Pergerakan lempeng yang saling berlawanan arah akan membentuk struktur geologi yang berbentuk seperti patahan/sesar secara horizontal.

REFERENSI

Husein, Salahuddin. 2012. Tektonik Lempeng. Yogyakarta. Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada.

Hugget, R. J. 2007. Fundamental of Geomorphology: Second Edition. New York: Routledge Publisher.

Wikipedia. Tektonik Lempeng. http://id.wikipedia.org/wiki/tektonik-lempeng. 27 April 2014.

Penulis : Annisa Trisnia Sasmi | Geofisika UGM 2013

Himpunan Mahasiswa Geofisika Indonesia

HMGI