PENGGUNAAN GPR UNTUK MONITORING BANGUNAN BERSEJARAH

(A CASE STUDY OF THE USE OF GPR FOR REHABILITATION OF A CLASSIFIED ART DECO BUILDING: THE INOVADOMUS HOUSE)

 

PENDAHULUAN

            Bangunan bersejarah merupakan aset yang harus dijaga dan dilindungi keberadaannya karena terdapat nilai-nilai ilmu pengetahuan maupun sejarah yang terkandung di dalamnya. Untuk menjaga keberadaan bangunan bersejarah perlu diadakannya rehabilitasi/perawatan. Informasi dasar mengenai pondasi, karakteristik material, sejarah modifikasi, pemetaan infrastruktur, kondisi patologi, dll sangat dibutuhkan agar rehabilitasi dapat berjalan lancar dan efektif. Dalam paper ini dilakukan pengambilan data geofisika GPR untuk mendapatkan informasi-informasi yang telah disebutkan sebelumnya pada Art Deco Building : The Inova Domus House yang terdapat di Ilhavo, Portugal. GPR dipilih sebagai metode yang cocok karena merupakan metode non-invasive, praktis, cepat, dan memiliki akurasi tinggi.

 

AKUISISI

            GPR yang digunakan merupakan jenis shielded dengan antena berfrekuensi :

  • 500 MHz digunakan untuk melakukan ground survey di luar gedung guna mengetahui geologi bawah permukaannya. Lintasan pada akuisis ini dibuat secara paralel dengan jarak antar lintasan 0.2 meter, total lintasan berjumlah 24, dan dilakukan di dua area. (Bukan 3D)
  • 800 MHz digunakan untuk akuisisi pada lantai gedung guna memetakan infrastruktur bawah permukaan. Spasi antar lintasan 0.1 meter, total 737 lintasan, dan dilakukan pada sembilan area. (3D)
  • 6 GHz digunakan untuk melakukan akuisisi pada dinding guna mengetahui karakteristik material dan kondisi patologi (kelembaban dan fracture). Spasi antar lintasan 0.05 meter, total 1330 lintasan, dan dilakukan pada tiga puluh enam area. (3D).

A1

Gambar 1. Area Survey

 

INTERPRETASI

  1. Geologi dan Hidrogeologi

A2

Gambar 2. Hasil penampang pada lintasan di daerah E1.

 

Dari penampang yang dihasilkan dapat diinterpretasikan kondisi bawah permukaan sebagai berikut :

  • Lapisan teratas di atas garis berwarna merah diinterpretasikan sebagai aspal (concrete pavement)
  • Lapisan yang berada di antara garis hijau dan merah menunjukkan adanya tanda cross bedding dan diduga sebagai anthropic filling / urugan.
  • Lapisan yang berada di antara graris biru dan hijau menunjukkan adanya cross bedding namun tidak seberapa nampak.
  • Garis biru diinterpretasikan sebagai phreatic level (muka air).
  • Lapisan di bawah garis biru menunjukkan adanya atenuasi dan diinterpretasikan sebagai lapisan clay.

 

  1. Letak Infrastruktur

            Infrastruktur yang ingin dipetakan di sini adalah power cable, pipa saluran air, dan saluran pembuangan. Oleh karena itu dilakukan pengukuran pada daerah A1 dan A2 dengan menggunakan antena 800 MHz.

A3

Gambar 3. Time slice (-0,17 m) pada area A1

Garis kuning diduga sebagai power cable sedangkan garis merah adalah pipa air.

A4

Gambar 4. Kiri : Time slice (-0,64 m) pada area A1, Kanan bawah : Grid lintasan pada A2, Kanan atas : radargram garis XY.

Kotak merah pada time slice diduga sebagai saluran pembuangan. Dibuktikan dengan adanya bentukan hiperbola pada radargram yang berkorelasi (kotak kuning). Dua garis merah menyatakan batas reflektor sesuai dengan garis biru dan hijau pada gambar 2. Sedangkan garis hijau menyatakan pondasi dari tembok bangunan.

 

  1. Struktur Dinding dan Karakteristik Materinya

            Pada pengukuran ini didapatkan hasil seperti gambar 5 dimana tidak ditemukan infrastruktur di dalam dinding
dan juga tidak ditemukan event hiperbola pada radargram serta tidak diketahui material penyusun dinding sehingga tidak didapatkan korelasi kedalaman dan konstanta dielektriknya.

A5Gambar 5. Time slice 2668 ns.

 

  1. Perubahan Layout Awal Bangunan atau Material Penyusunnya

            Karena bangunan ini telah mengalami beberapa kali renovasi namun tidak tercatat dimana saja lokasi perubahannya maka dapat dilakukan survey untuk menemukan dimana saja lokasi renovasi.

A6

Gambar 6. Perbedaan material pada dinding time slice -0,06 meter

Pada gambar tersebut nampak dua buah material yang berbeda dimana pada sebelah kiri garis merah diduga sebagai batubata lama dengan penyususn adalah material berpasir dengan kandungan besi sedikit sedangkan sebelah kanan garis merah adalah batubata modern (0.2×0.3 m) tersusun atas clay dan kandungan besi yang tinggi. Selain itu pada batubata modern juga terdapat rongga. Kecepatan pada bagian kiri sebesar 0.11m/ns konstanta dielektrik 9 sedangkan sebelah kanan kecepatannya sebesar 0.15-0.18 m/ns dengan konstanta dielektrik 4.

 

  1. Kondisi Patologi

Kelembaban

A7

Gambar 7. Kelembaban dengan time slice semakin bawah semakin dalam

Warna hitam diinterpretasikan sebagai daerah yang lembab. Semakin dalam daerah lembab semakin luas.

 

Fracture

A8

Gambar 8. Fracture pada dinding

Keberadaan fracture diduga pada garis merah dengan reflektivitas yang besar. Garis biru merupakan fracture yang telah diperbaiki.

 

KESIMPULAN

Metode GPR dapat digunakan untuk mengetahui kondisi geologi dan hidrogeologi, pemetaan infrastruktur, karakterisasi material, serta kondisi patologi dari bangunan.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

          Barraca, N. 2016. A case study of the use of GPR for rehabilitation of a classified Art Deco building: The InovaDomus house. Journal of Applied Geophyisics Vol :127;pp :1-13.

Himpunan Mahasiswa Geofisika Indonesia

HMGI

Shares